Berita

Teks Kristen yang Hilang Berabad-abad Mengungkap Fakta Baru Misteri Paling Mengerikan dalam Alkitab

Naskah khotbah kuno yang baru diidentifikasi oleh para peneliti menyoroti kembali salah satu kisah Alkitab yang paling penuh teka-teki: kunjungan Raja Saul kepada Penyihir dari Endor. Dalam peristiwa misterius ini, arwah Nabi Samuel muncul untuk menubuatkan kematian sang raja.

Tersembunyi di balik lembaran-lembaran naskah kuno di sebuah perpustakaan di Polandia, ditemukan khotbah-khotbah yang hilang dari seorang santo. Khotbah ini berusaha mengupas salah satu pertemuan paling mengerikan yang tercatat di dalam Alkitab.

Teks berbahasa Latin dari abad ke-12 tersebut ditulis oleh Santo Agustinus, seorang teolog yang pemikiran-pemikirannya turut membentuk Kekristenan Barat dan sering dianggap sebagai pemikir Kristen paling penting setelah Rasul Paulus.

Para peneliti menemukan bahwa khotbah-khotbah yang baru diidentifikasi ini berfokus pada kunjungan Raja Saul kepada Penyihir dari Endor. Kisah ini adalah salah satu episode paling misterius di dalam Alkitab, di mana nabi Samuel yang telah meninggal muncul dan meramalkan kematian sang raja.

Kisah yang tercatat dalam 1 Samuel 28 ini telah membingungkan para cendekiawan Yahudi dan Kristen selama berabad-abad. Pasalnya, kisah tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa seorang medium (perantara roh) berhasil memanggil arwah seorang nabi yang telah tiada.

Santo Agustinus bergulat dengan kemungkinan tersebut di dalam khotbah-khotbah yang baru ditemukan ini. Ia mempertanyakan apakah sosok yang ditemui Saul benar-benar Samuel atau sekadar ilusi supernatural.

Pada akhirnya, Santo Agustinus berpendapat bahwa Penyihir dari Endor sama sekali tidak memiliki kuasa atas orang mati. Jika Samuel benar-benar muncul, Agustinus meyakini hal itu terjadi semata-mata karena Tuhan mengizinkannya, bukan karena sang medium berhasil memanggilnya melalui ilmu sihir.

Profesor Christian Tornau, seorang ahli bahasa Latin di Universitas Würzburg, mengatakan: “Khotbah pertama disampaikan selama kebaktian hari Minggu dan diakhiri dengan pertanyaan teodise (keadilan Tuhan) beserta interpretasinya.”

“Baru pada khotbah kedua di hari Rabu berikutnya, berbagai pilihan tafsir tersebut ditimbang dan dipertimbangkan,” tambahnya.

Santo Agustinus hidup dari tahun 354 M hingga 430 M. Lahir di Afrika Utara dari ayah yang menganut paganisme dan ibu yang merupakan Kristen yang taat, Agustinus menjalani kehidupan masa muda yang sangat duniawi dan penuh dengan kegelisahan intelektual.

Ia awalnya menolak Kekristenan, mengeksplorasi gaya hidup hedonisme dan agama dualistik Manikheisme sebelum akhirnya memeluk filsafat Neoplatonisme.

Setelah mengalami krisis spiritual yang mendalam, ia akhirnya bertobat menjadi Kristen dan dibaptis di Milan pada tahun 387 M.

Penemuan naskah ini terjadi pada tahun 2024, ketika Tornau diminta untuk menguraikan enam khotbah yang ditulis oleh sang santo. Ia menemukan bahwa dua di antaranya belum pernah ditemukan sebelumnya oleh para peneliti modern.

Khotbah-khotbah yang baru ditemukan tersebut berfokus secara khusus pada kisah Perjanjian Lama.

“Saul merasa dirinya berada dalam situasi yang tanpa harapan sesaat sebelum pertempuran melawan bangsa Filistin. Tuhan tidak mendengarkan doa-doanya. Ia pun berpaling kepada seorang penyihir,” jelas Tornau dalam sebuah pernyataan.

Atas permintaan Saul, penyihir tersebut memanggil arwah yang diduga sebagai nabi Samuel yang telah meninggal. Roh itu kemudian meramalkan kematian Saul dalam pertempuran. Menurut catatan Alkitab, Samuel adalah sosok nabi yang mengurapi dua raja pertama Israel, yaitu Saul dan Daud, atas perintah Tuhan.

Kisah ini telah lama membuat para teolog kebingungan dan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana mungkin seorang penyihir bisa memanggil roh seorang nabi yang kudus.

Para ahli bahasa Latin juga bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin Tuhan yang mahakuasa mengizinkan hal ini terjadi, atau apakah Dia sebenarnya tidak mahakuasa?”

Selama berabad-abad, para teolog telah berdebat apakah penampakan itu adalah sebuah tipuan iblis yang diciptakan oleh sang penyihir, atau memang penampakan asli Samuel yang diizinkan oleh Tuhan untuk memperingatkan Saul tentang kematiannya yang sudah dekat.

Para peneliti mencatat bahwa setelah Santo Agustinus menyampaikan kedua khotbah tersebut, para jemaat gereja diminta untuk membentuk opini mereka sendiri mengenai bagian Alkitab tersebut.

Tornau berpendapat bahwa pendekatan didaktik dan retoris semacam ini sangat khas Santo Agustinus. Sang santo memang dikenal sering menyajikan berbagai pilihan interpretasi, menahan diri untuk memberikan penilaian akhir yang mutlak, dan membiarkan para pendengarnya berpikir sendiri.

“Gaya bahasa, humor, dan isinya juga dengan jelas menunjukkan bahwa khotbah-khotbah dalam naskah tersebut benar-benar ditulis oleh Agustinus,” ujarnya.

Meskipun demikian, kehati-hatian tetap diperlukan karena sebelumnya pernah ada kasus di mana tulisan-tulisan lain yang dikaitkan dengan sang santo ternyata hanyalah hasil pemalsuan.

Untuk memastikannya, Tornau dan rekannya, Dr. Clemens Weidmann dari Corpus Scriptorum Ecclesiasticorum Latinorum (CSEL), segera bekerja dan mengundang 20 ahli bahasa Latin lainnya untuk memverifikasi keaslian teks tersebut.

Merekonstruksi sejarah pewarisan (transmisi) khotbah-khotbah ini bukanlah pencapaian yang mudah.

“Pertama-tama, pembuatan naskah semacam ini pada abad ke-12 adalah hal yang tidak biasa. Salinan yang dibuat pada awal abad ke-8 atau ke-9 akan jauh lebih umum,” kata Tornau.

Para peneliti meyakini bahwa khotbah-khotbah yang baru ditemukan ini bisa bertahan karena seorang juru tulis di abad pertengahan menyalinnya dari naskah yang jauh lebih tua, yang kini telah hilang ditelan sejarah.

“Sebuah katalog tua dari biara menyebutkan adanya sebuah teks dengan judul dan urutan isi yang sama persis dengan naskah kita ini,” jelas Tornau.

“Naskah tua itu bisa saja berfungsi sebagai rujukan aslinya.” Namun, sang peneliti mencatat bahwa ia tidak bisa mengonfirmasi asumsi ini 100 persen, karena seluruh koleksi perpustakaan tersebut telah habis terbakar selama Perang Tiga Puluh Tahun yang berkecamuk dari tahun 1618 hingga 1648.